Animation 3 Pemberontak S.I.D



I Like It,,,


We are outSIDers Sejati
,,,,
Terus berkarya bang,,.,.,.,.,

History Superman Is Dead ( SID )





Sebenarnya saya bisa dikatakan tidak terlalu FANATIK dengan suatu band,,tapi saat teman saya mengajak untuk maen band dan memperkenalkan nama ''SUPERMAN IS DEAD'',saya jadi tertarik ingin tau lebih banyak tentang band ini karena saya marasa dg jenis musik yang dibawakannya.
Dari artikel-artikel yang saya baca,band Superman Is Dead atau disingkat SID ialah band yang berasal dari pulau Bali,tepetnya di Poppies Lane II - Kuta.Band ini beranggotakan 3 personil asal Bali,yaitu:Bobby Cool ( Gitaris/Vokalis ), Eka Rock ( Bassis ), dan Jerinx ( Drummer ).SID berdiri tahun 1995.Jenis musik yang dibawakanmya terpengaruh gaya musik band-band asing,seperti GreenDay dan NOFX,akan tetapi lama kelamaan aliran musik SID bergeser ke genre Punk 'n Roll seperti grup musik Supersuckrs, Living End dan Social Distortion.Sebutan untuk fans SID adalah "OUTSIDERS" untuk cowo',dan untuk cewe' biasa dipanggil "LADY ROSE".
Pertama terbentuknya SID ( Superman Is Dead ) dimotori oleh seorang anggota band Heavy Metal thunder yang barnama Ari Astina ( JERINX ) yang ingin membentuk band baru bersama drummer band new wave punk diamond clash bernama Budi Sartika ( BOBBY COOL ) yang ingin menjadi gitaris sekaligus vokalis.Mereka bertemu di Kuta-Bali yang akhirnya sepakat untuk membentuk sebuah band.ketika itu bassis masih diisi oleh additional player bernama Ajust dan sering membawakan lagu-lagu milik GreenDay.
Setelah beberapa waktu diiringi aditaonal player,akhirnya datanglah personil baru yang bernama Eka Arsana ( EKA ROCK ) dan resmi menjadi personil SID.Sebelumnya,nama band ini adalah Stone TemplePilot's "Superman Silvergun",karena dirasa kurang cocok kemudian berganti menjadi Superman Is Dead yang menurut mereka memiliki arti bahwa manusia yang sempurna hanyalah illusi belaka dan imajinasi manusia yang takkan pernah ada.

Berikut data-data personil Superman Is Dead :


EKA ROCK ( bass,backing vocal,beer drinker,warm smilin',Rock 'N Roll bandman )

Tempat/tanggal lahir : Denpasar,8 Februari 1975
Pendidikan : Sastra Inggris,Faksas Unud














BOBBY COOL ( beer drinker,lead vocal,guitar,well-known as "The Bastard Child of Fat Mike" since his voice sounds pretty similar with that NOFX frontman )

Tempat/tanggal lahir : Denpasar, 8 September 1977
Pendidikan : Sastra Inggris, Faksas Univ.Warmadewa Denpasar









JERINX ( hairwax junkie,drum,beer drinkin' Rock 'N Roll prince charming )

Tempat/tanggal lahir : Kuta, 10 Februari 1977

Pendidikan : Fakultas Ekonomi,Undiknas Denpasar



Rebel For Life BY Jerinx



PEMBERONTAK ??


Rebel For Life by JRX (taken from Jerinx SID Myspace blogs) By jrx



Rebel For Life


By jrx



Pemberontak, rebel......what's came up in your head when you hear this word?



Melawan orang tua? Drugs? Mabuk lalu menghajar orang? or mengganti dress-code mu mengikuti gaya band2 yang over-played di MTV?



Well, no matter what you do, esensi pemberontakan tidak akan pernah berubah.



A real rebellion stays under your skin. Bukan dari dandanan, machoism, tattoos, piercing or anorexic-look yang dibuat-buat. There's two kinds of rebel. Once you're a real rebel, kamu akan selalu jadi a rebel for most of your lifetime, tak akan bisa berubah coz that's who you are. It's in your blood. Kamu akan selalu berpikir utk melawan kecenderungan2 yang ada, kapan saja dimana saja.But when you're a wannabe-rebel [pemberontak tanpa misi dan prinsip yang jelas] kamu hanya akan memandang sebuah pemberontakan dari sisi luarnya aja [baca: fashion] Dan a wannabe-rebel tidak akan pernah membuat sejarah atau melahirkan pemikiran baru yang lebih baik utk generasinya.



Kita orang timur emang seringkali bingung mengadaptasi culture barat yang sedemikian liberalnya, dimana disini masyarakat kita diikat oleh tatanan atau norma yang kadang gak penting dan berlebihan. Masyarakat kita mencintai keseragaman dan kurang menghargai sosok2 idealis or individualis. Menjadi seorang rebel memang susah untuk hidup di Indonesia, for real, tapi disanalah letak art of the rebellion-nya. Sesuatu yang memerlukan pengorbanan karena masyarakat kita masih cenderung melihat sisi negatif dari seorang rebel [di cap sok kebarat-baratan dll]. Padahal menjadi rebel bukanlah hal yang 100% salah. Tergantung apa yang kamu lawan. Misalnya, kamu benci melihat sinetron2 Indonesia yang mewah, dangkal dan mudah ditebak, lalu kamu bikin sebuah film dokumenter ttg bagaimana sinetron2 tsb membodohi masyarakat kita yang mayoritas masih hidup dibawah garis kemiskinan. Itu sebuah pemberontakan yang pintar. Sebuah counter thd. komersialitas dan penyeragaman yang berlebihan.



A real rebel selalu berada diluar kecenderungan masyarakat, dan itu bukanlah pilihan yang salah, selama kamu bisa bertahan dan mempertanggung jawabkan misi dari pemberontakkan mu.



Harus diingat, kecenderungan di masyarakat atau di scene tidak selalu benar dan baik buat kita.



Contohnya ketika trend emo menyerang, remaja kota2 besar beramai-ramai menutupi rambutnya dgn poni dan bikin band emo dadakan, alasannya biar keliatan 'cool' dan diterima di pergaulan kota besar yang makin konsumtif. Hanya sebagian kecil dari remaja2 kita yang serius menyimak dan mengerti lirik band2 emo. Ironis. Padahal diasalnya, band2 tsb terbentuk karena mereka sering tersisih dalam pergaulan, dan musik yang mereka tulis adalah penegas kalau mereka adalah orang2 yang berada diluar kecenderungan/pergaulan. Disini, oleh sebagian besar remaja malah dipakai senjata utk kelihatan 'up to date' dan 'gaul'[damn, i hate that word!]. Same thing happens to punkrock and ska and maybe rockabilly in the future.. Misi pemberontakannya ditinggalkan, fashion-nya di obral habis2an. Dan menurut saya itu samasekali bukan pemberontakan.



Kalau saya umpamakan pemberontakan adalah struktur sebuah lagu/band, jadinya begini: pakaian yang dikenakan oleh personel band, jenis suara gitar, drum dan suara teriakan/nyanyian vokal adalah media penyampai pemberontakan, sedangkan isi dari pemberontakan itu sendiri ada pada lirik. Karena lirik berasal dari pemikiran yang paling dalam, ada pesan yang ingin disampaikan. Banyak orang yang bisa bermain skillful, tempo drum hebat, tehnik vokal diatas angin dan bergaya spt rockstar kebanyakan groupies yang mempunyai masalah kejiwaan [yea right...] tapi jarang bgt ada band Indonesia, apalagi yang terkenal,punya lirik berontak yang skaligus pintar. Ujung2nya paling keras bisanya menghujat pemerintah tanpa ngasi solusi yang jelas, yang buruh bangunan pun bisa melakukan itu sambil menghisap kretek terakhirnya. Jadi ya, percuma saja kalau ada band yang merasa sudah pemberontak hanya karena memakai kaos gambar tengkorak, tattoo or mohawk, distorsi maksimum dgn beat drum yang berat, tapi liriknya masih standar khas Indonesia [lirik cinta yang dangkal dan di klip harus ada model cantik dan ganteng lagi berantem] Seorang rebel akan menemui kesulitan men-support band2 sptitu. Lagipula, kenapa harus nyerah ama standar2 yang dibikin ama generasi sblm kita, apa kita tidak punya hak utk punya taste thd standar yang berbeda?



Sekarang try to think, kecenderungan apa aja yang ada di masyarakat kita yang kamu rasa mengganggu tidurmu. Ignorance is the real enemy. Kamu benci melihat budaya kekerasan yang semakin populer di masyarakat, lawan itu semua dan jangan ikut menjadi seperti mereka. Kamu kesal stiap kali melihat masyarakat dengan santainya membuang sampah plastik sembarangan, jadilah seorang pro-environment dan pengaruhi orang2 disekitarmu. Kamu gak tega melihat hewan2 dibunuh utk dimakan, jadilah seorang vegetarian dan daftarkan dirimu di peta2.com. Kamu bosan melihat budaya modern nan konsumtif anak muda yang manja dan kadang berlebihan, jadilah seorang berandal pasar barang bekas dan kenakan pakaian bekasmu dengan bangga dan stylish. Kamu merasa menyesal membeli majalah yang dipenuhi wajah2 infotainment ga penting, bikin dan cetaklah wajahmu sendiri. Bosan ama design kaos2 distro yang makin seragam dan cheesy, bikin clothing-line mu sendiri. Akan lebih baik jika kamu melakukan itu semua tanpa menjadi seorang fasis yang kaku. Just do your own thing.



See..banyak hal2 berontak yang bisa kamu lakukan di Indonesia tanpa harus merugikan orang lain dan malah bisa menguntungkan jika kamu bisa me-manage 'kenakalanmu'



Jadilah seorang counter-culture with a big heart, yang bertanggung jawab, respect thd keluarga, lingkungan dan bumi pertiwi. Dont judge us, musicians,by the way we look or the way we dress, coz these days, anyone can look so punk, so psycho, so emo, so rockabilly, so metal dalam hitungan detik. Zap! Just like that!



Jangan sampai terjebak menjadi seorang rebel bodoh yang hanya mengejar status sosial.



You gotta know where you stand and why you stand there. Knowledge [pengetahuan] is king and that's all you need to be a real modern rebel.



Cheers, cherry and dynamite!

Koleksi Foto Eka Rock

















Tatto Jerinx


Jerinx, penggebuk drum Superman Is Dead (SID), menyimpan filosofi di balik tato-tato yang melekat di tubuhnya. Sadar bahwa tato merupakan sesuatu yang krusial, Jerinx tak mau asal menaruh gambar tanpa makna dan nilai apa-apa. 
"Tato itu bakal saya bawa sampai mati. Jadi, harus punya makna yang dalam," ujar Jerinx saat ditemui di Jakarta Barat, baru-baru ini. 
Karenanya, Jerinx memilih motif tato yang dianggapnya punya nilai dan makna yang dalam. Tato bertuliskan "Grand Mom", misalnya, ia toreh ditubuhnya untuk mendedikasikannya kepada sang nenek.  "Nenek saya meninggal pas ulang tahun saya, sembilan tahun yang lalu, di bulan Februari," cerita Jerinx sambil menunjukkan tato di lengan sebelah kanannya.
Terus yang lainnya?  "Yang ini adalah judul lagu country yang dibawakan lagi sama Social Distortion yang liriknya bagus banget dan menyentuh banget bagi saya. Dan, yang ini adalah buat seseorang yang sangat spesial bagi saya, Lady Rose. Saya dedikasikan buat dia," katanya.  "Lalu ada naga karena shio saya naga," tambahnya, seraya mengatakan  bahwa tato-tato itu merupakan karya seniman-seniman  tato luar dan dalam negeri.
Bahkan, Jerinx juga mengabadikan runtuhnya menara kembar WTC dalam tubuhnya. "Yang ini saya buat pas 9/11. Waktu New York dihancurkan, saya langsung bikin tato ini, karena dunia saya pikir tidak sama lagi dan ternyata dunia benar-benar berubah. Setelah itu mulai ada bom Bali dan teroris," kata Jerinx.
Melongok ke belakang, Jerinx mengaku mendapatkan tato pertamanya sejak kelas dua SMA. "Waktu itu saya baru punya band. Jadi, saya terinspirasi tato tribal-nya Anthony 'Red Hot Chili Peppers'," kenang Jerinx. "Emang waktu itu saya belum terlalu paham dengan konsep tato seperti apa, tapi saya hanya berpikir ini keren saja," sambungnya.
Pilihan tato pertamanya itu, menurut Jerinx, hanya sebatas pengin keren-kerenan saja. "Waktu itu memang lagi tren tribal. Karena belum ada internet, referensi saya dari TV sama majalah-majalah yang saya dapat di jalan. Waktu itu, cukup susah dapatin majalah luar. Akhirnya, saya baru sadar kalau tato ternyata banyak konsepnya, ada yang old school segala macam," ujarnya.
Ngomong-ngomong, apa masih berniat membuat tato baru lagi di tubuhnya? "Saya bakal tato sebuah mesin motor di perut saya. Di Sanur, ada artis tato. Namanya Kaga, yang spesialis tato black and grey. Jadi, saya rasa, kalau di perut saya ditato mesin motor itu bakal keren hasilnya," tutup Jerinx.

Ketika Jerinx Menyalurkan Sisi Sensitif

image

Badan kekar tato tersebar wajah manis tapi gahar membuat I Gede Ary Astina de-ngan mudah menarik dari sisi visual bagi banyak orang -- khususnya perempuan. Tapi pria yang lebih populer dengan nama Jerinx ini paling tak suka jika dipuji atau disukai seseorang hanya karena tampilan fisiknya. Pujian yang dangkal akan membuatnya risih. Meski begitu, proses jatuh cintanya pada salah satu band yang sangat berpengaruh pada hidupnya -- Social Distortion -- juga berawal dari sebuah ketertarikan visual. Suatu hari pada medio ’96, di sebuah lampu merah di dekat pom bensin di Kuta, Denpasar, Bali, dia melihat satu logo band yang menarik di antara banyak stiker logo band yang menempel di helm seorang peselancar yang diduga warga negara Amerika Serikat. Gambar tengkorak sedang memegang martini dan pistol itu terus melekat di kepalanya hingga suatu hari dia bertanya kepada teman-temannya yang lebih tua yang bekerja di pelayaran soal band bernama Social Distortion itu. Dari mata pindah ke telinga, begitu kaset Social Distortion diterimanya itu diputar (tepatnya album Somewhere Between Heaven and Hell), Jerinx langsung jatuh cinta. Musik punk dengan pengaruh musik country adalah sesuatu yang berbeda dari banyak band punk yang didengarnya saat itu. Kesan yang timbul di benak Jerinx saat mendengar musik Social Distortion: genit sekaligus macho sekaligus sensitif. “Baca liriknya langsung benar-benar kena dengan apa yang saya rasakan,” kata Jerinx tahun 2006 pada Alfred Ginting di majalah Playboy Indonesia. “Lirik-lirik rockabilly itu banyak tentang patah hati, mabuk atau mobil, tentang politik sedikit. Saya merasakan citra seorang berandalan yang sok ganteng. Ada selera humornya.”

Perkenalannya pada Social Distortion berujung pada terbentuknya Culture on Fire (inspirasi nama itu dari proses menikmati narkotika jenis shabu), sebuah band yang membawakan lagu-lagu Social Distortion. Di Culture on Fire, Jerinx bernyanyi dan bermain gitar karena lagu-lagu Social Distortion mudah dimainkan. Gaya bernyanyinya lantas mengadopsi gaya Mike Ness sang vokalis Social Distortion. Dalam perjalanannya, Culture on Fire mengalami banyak bongkar pasang personel hingga pada 2003 ketika ternyata Jerinx sudah menulis banyak lagu untuk band itu, mereka memutuskan untuk mengeluarkan album. Setelah memiliki susunan personel tetap yang dianggap pas, mereka memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Devildice -- nama Culture on Fire dianggap tak membawa hoki. Album pertama Devildice pun rilis dengan judul In the Arms of the Angels. Hanya diedarkan di kalangan terbatas dalam jumlah terbatas. Satu-satunya jurnalis yang mengulas album itu adalah Arian Arifin alias Arian13 yang saat itu masih bekerja di majalah MTV Trax. Jerinx menyebut kata-kata ‘terasingkan’, ‘outcast’, ‘kematian’, ‘gelap’, untuk menggambarkan isi album perdana Devildice.

Itu sebabnya lagu-lagu buatan Jerinx yang beratmosfer seperti tadi tak akan masuk ke album Superman Is Dead (SID) karena tak cocok (kalaupun ada yang masuk, musiknya tetap riang). Ada semacam ikatan emosional dengan lagu itu -- karena secara tak langsung semua lagu Devildice adalah pengalaman pribadi Jerinx. Soal bernyanyi, kali pertama dia bernyanyi di SID adalah di lagu “Lady Rose” di album Black Market Love (2006). Tapi bukan berarti lagu-lagu Devildice adalah buangan dari SID. Jerinx juga memikirkan faktor rasa nyaman gitaris/vokalis Bobby Kool dan pemain bas Eka Rock ketika menawarkan satu lagu untuk SID. “Kasihan Bobby kalau menyanyikannya. It’s very depressive, dia nggak mengalami itu. Biar saya saja yang mengalami, tapi kalau saya nyanyi di SID dengan tema-tema seperti itu, nggak cocok,” kata Jerinx ketika berkunjung ke Rolling Stone pada Senin malam, 4 Juli. Devildice baru saja merilis album kedua mereka yang berjudul Army of The Black Rose. Selain Jerinx, susunan personelnya adalah: Kuzz (bas), TR (drum), Cash (gitar/vokal latar), dan Mr.F (trumpet dan gitar akustik).

Malam itu Jerinx baru saja pulang dari taping untuk program Mata Najwa di Metro TV. Dia jadi salah satu narasumber yang bertema soal musik dan politik. Ada sedikit rasa kecewa sepulangnya dari acara itu. Dia pikir dia akan berada satu forum dengan Si Raja Dangdut Rhoma Irama. Jerinx menulis lagu “Kita Vs Mereka” untuk SID di album Black Market Love setelah adanya kejadian penyanyi dangdut Inul Daratista yang ‘ditegur’ Si Raja Dangdut karena menganggap goyang pinggul Inul terlalu erotis. Padahal, sebelum berangkat ke Jakarta, Jerinx dan kawan-kawannya di Bali sudah membahas kira-kira materi apa saja yang bisa disampaikan kepada Rhoma Irama. Di akun Twitter @JRX_SID, dia menulis soal ini, dan berkata bahwa sayang sekali dia tak sempat bertemu dengan Rhoma. Salah seorang anaknya malah menjawabnya dengan mengatakan akan menyampaikan salam pada Si Raja Dangdut. Yang tak diketahui sang anak, nada menyayangkan itu bukan berarti karena Jerinx mengagumi sosok Rhoma. Tweet dari Jerinx memang kadang sulit dibedakan mana yang konteksnya sedang bercanda atau serius. Lebih sial lagi, beberapa tweet dia sering salah diartikan oleh kaum fundamentalis: Jerinx sering dianggap anti agama Islam dan diserang lewat Twitter. Saya ragu orang-orang yang menyerangnya di dunia maya akan berani menyerangnya secara ta-tap muka alias berhadapan langsung begitu melihat badan Jerinx yang besar nan kekar itu.

“Kepintaran dia itu salah satunya adalah pandai mempromosikan diri sendiri,” kata penulis novel Djenar Maesa Ayu. Malam itu Djenar menemui Jerinx di Rolling Stone Cafe, sekaligus diwawancarai oleh mahasiswa demi kepentingan skripsi. Belakangan ini, Djenar dan penulis Richard Oh sibuk menawari Jerinx peran di film mereka masing-masing. Saat wawancara berlangsung, belum ada keputusan soal film siapa yang akhirnya akan diambil Jerinx dan dia belum bisa bercerita seperti apa film yang akan mereka buat itu, maka kita tak usah bicara lebih banyak soal kemungkinan Jerinx menjadi pemain film. Yang jelas, saat ini status Jerinx selain pemain drum, penulis, pengusaha sandang dan pangan, dia juga seorang pemain gitar dan penyanyi.

Apa yang membuat Anda percaya diri bernyanyi?
Feedback orang lah. “Wah, suara elo bagus juga.”

Dan gaya bernyanyi Anda mengikuti Mike Ness ya.
Awalnya ya, kan mau bikin mirip sama Mike Ness. Saya juga coba nyanyi dengan nada lain, coba terdengar seperti saya sendiri, tapi jadinya begitu juga. [tertawa]

Kenikmatan seperti apa yang Anda dapat dari Devildice?
Saya tipe orang yang senang merasa sebagai underdog. Di Devildice ada perasaan itu, kalau konser nggak jadi bintang utama, lalu masih bawa gitar sendiri karena nggak ada kru. Kalau di SID kan belakangan sudah gampang, sudah ada orang yang melakukannya untuk kami. Sekarang sih sudah mulai bisa menggaji kru, tapi karena jumlah krunya masih sedikit.

Itu yang membuat Anda merasa tetap rendah hati?
Secara nggak sadar mungkin ada [perasaan itu]. Kaki tetap di bumi, walaupun yang ini sudah naik, tapi saya masih belong to the underground scene, karena saya lahir di sana. Dengan adanya Devildice, saya jadi masih bisa dekat dengan scene itu. Walaupun di SID juga kadang-kadang masih dapat suasana begitu, kalau lagi main di Twice Bar lah. [tertawa]

Momen apa yang membuat Anda merasa kalian sudah bukan underdog?
Ketika drum kami dipasang di tengah-tengah panggung pada saat PRJ. Zaman dulu kan ditaruh di pinggir. Jauh. Lalu, di PRJ kemarin tiba-tiba dipasang di tengah dan di atas. Wah, itu pembuktian.

Di SID, semua pembuktian sudah tercapai?
Nggak tahu sih, orang bilang kan jangan cepat puas. Tercapai? Mungkin beberapa sudah, tapi saya juga tidak tahu apa yang sudah dicapai. [tertawa]

Drummer S.I.D seorang surfer

Jerinx

Siapa yang tak kenal sosok yang satu ini. Dengan eksisnya dia didunia musik membuat dia dikenal banyak orang. Belum lagi kegiatannya yang selalu memberikan pesan tertentu kepada masyarakat umum. Ya..dia adalah Jerink (drumer SID), seorang “penjahat terkenal” yang juga menjadi “aktifis” lingkungan. Lalu bagaimana dia bisa beralih ke surfing saat ini?
Apa yang didapatkannya lewat surfing? Check this interview with Jerinx..
Halo, apa kabar?
Kabarnya bagus, baru ganti ban mobil Impala 62. soalnya kemaren malem bannya meledak !!

Bisa cerita sedikit awal mula surfing gimana?
Dulu waktu SMA sempat coba-coba surfing sekitar 3 bulanan. Tapi setelah diracuni musik, surfing langsung berhenti dan berlaih ke musik. Saya pikir waktu itu semua orang di Kuta sudah pada jago surfing, jadi ya lebih baik mengejar impian jadi pemusik dan penjahat aja hahaha.
Tapi sejak pertengahan 2008 saya mencoba surfing lagi, coz kelamaan main musik kadang bikin otak stuck.
Di surfing saya mendapat keseimbangan pikiran, sekaligus jaga stamina biar gebuk drum-nya tambah cihuy…haha

Kenapa memilih surfing, bukan olahraga yang lain?

Karena pada dasarnya saya kurang suka olah raga. And surfing doesn’t feel like a real sport. It just playing around with waves, enjoying sunset and bikini girls..it’s fun. Saya sempat mencoba skateboarding, tapi terlalu riskan.
Soalnya yang cedera pasti di bagian tubuh yang saya buthkan untuk bermain musik.
Surfing cenderung sedkit lebih aman dari kecelakaan fatal (but that really depends on where you surf)

Dimana biasanya surfing?

Mostly Kuta area. Half Way, Maharani didepan Mc D, dan di Padma.

Pernah kena wipeout? Ceritain dong..ato pengalaman cedera yang laen..
Lumayan sering kena wipeout.
Yang paling parah waktu board “nempeleng” kepala saya sampai telinga keluar darah dan tuli hamper seminggu..hahaha

Apa yang membuat kamu lebih memilih jadi free surfer ?

Free Surfer = Surfer Gratis? Hahaha.
Karena free surfer gak harus ikut kompetisi, kalau ikut sudah pasti kalah soalnya!haha
Tapi kalo kompetisi minum bir..ayo!!hahaha

Kan kamu juga seorang Drummer (SID), apa surfing tidak menganggu dalam kegiatanmu ?

Surfing malah sangat membantu, soalnya bikin badan lebih fit dan nggak kaku.
Main drum jadi smooth dan gak cepat lelah (kok kayak iklan obat kuat ya?haha)

Pendapat kamu tentang surfer girl?

Surfer girls are cool, they got attitude and mostly pemberani.
Dan yang jelas mereka cukup pintar untuk tidak menjadi korban iklan pemutih kulit yang meracuni pemikiran kebanyakan remaja di Indonesia.

Apa pendapat kamu tentang surfing di Bali ?
Surfing is Bali, Bali is Surfing.

Udah pernah trip kemana aja ?
Belum pernah yang terlalu jauh, masih di Bali aja.
Surftrip paling jauh ke Medewi, Negara. Pulang, kaki hancur dimakan tajamnya batu pantai Medewi..ouch!!

Pernah dapet perlakuan istimewa karena orang mengenal kamu sebagai surfer atau seorang Jerinx SID?
hahaha istimewa bagaimana maksudnya?
Dikasih ombak bagus terus ombaknya tidak di drop?
Belum pernah kayaknya..hahaha Biasa aja..semuanya santai.

Ada rencana buat proyek yang berhubungan dengan surfing atau mengkolaborasikan SID dengan surfing?
Sudah ada, beberapa lagu SID yang dimasukan ke beberapa video surfing local dan international.

Siapa surfer yang paling mempengaruhi kamu?
Yang jelas bukan Betet dan Tut Sampi, they’re too crazy!!hahaha

Apa rencana ditahun 2009?
Mau belajar berenang dan jadi juar surfing sambil maen catur..haha Seriously, I just wanna be better surfer, musician and a much better person.

Apa keinginan kamu yang berhubungan dengan surfing yang belum kesampean?
Mau bikin gambar mesin motor Harley di surfboard.

Kalau misalkan kamu tidak menjadi seorang pemusik apa yang ingin kamu lakukan?
Designer, actor atau jadi salesmen kompor gas dan sabun cair, biar disayang sama ibu-ibu. Hahaha

Menurutmu Tattoo dan surfing bagaimana?
Sedikit kontadktif sih soalnya tattoo akan rusak jika sering terkena sinar matahari langsung.
kanya saya jarang surfing siang hari. But what the hell.

Last Shout?
Thanks to Magic Wave for this interview.
IMPORTANT!!! JANGAN BUANG PUNTUNG ROKOK DI PANTAI!!!
Buanglah di tempat sampah, karena puntung rokok sangat susah dipisahkan dari pasir. (bintang&angga)

Nama            : Jerinx
DOB               : Kuta, 10 Februari 1977
Board            : 6’5, 2-15/16 Fish (tapi sudah laku, hehe)
Sponsor       : Barack Obama